Demi Berlaga Di Asian Games, Yudha Rela Kehilangan Pekerjaannya Sebagai Badut

Posted by Ganas003 on 16.55 in ,

Kisah atlet senam trampolin Yudha Tri Aditya, sanggup menjadi ilham bagi kita semua, alasannya yaitu baginya membela negara dan cita-cita orangtua yaitu yang utama. Yudha dari awal merupakan atlet pesenam artistik gymnastik, bersama Sindhu Aji Kurnia yang menjadi wakil Indonesia di nomor tersebut untuk Asian Games 2018. Dua tahun lalu, Yudha sempat berhenti sehabis gagal di Pekan Olahraga Nasional 2016 dan juga cedera.


Laki-laki yang usianya sudah mau menyentuh kepala tiga ini bekerja di taman bermain di Bandung, sehabis berhenti jadi atlet. Yudha bekerja sebagai badut, pemain sirkus, sekaligus penjaga wahana. Pekerjaannya menuntutnya mencar ilmu senam trampolin yang ia pelajari secara belajar sendiri mengandalkan video tutorial di YouTube. Pada prosesnya Yudha mulai berkembang dalam senam trampolin, hingga jadinya masuk pelatnas trampolin untuk tanding di Asian Games 2018, sehabis menyabet medali emas dan perak dalam ajang perlombaan trampolin di Houbii.


Ketika meminta izin untuk berlaga di Asian Games 2018, manajer tempatnya bekerja tak serta-merta memperlihatkan izin. Apalagi sang manajer bilang bahwa Asian Games bukan momen penting. Hal itu melukai hati Yudha hingga ia bertekad bundar keluar dari pekerjaanya.


“Aku tidak sanggup izin di daerah kerja itu, hingga jadinya beliau (manajer) memberi pilihan mau pekerjaan atau Asian Games. Dia bilang kerjaan tiap bulan ada (gaji) dan reguler juga ada, sedangkan Asian Games cuma sementara. Terus beliau bilang Asian Games tidak penting juga,” ucap Yudha.


Bagi Yudha, ajang olahraga menyerupai ini yaitu sebuah mimpi. Ucapan almarhum ayahnya terus mengalir di dalam sanubarinya ketika ia diajak dalam pembukaan pekan raya olahraga tahun 1993.


“Waktu tahun 1993 ada pembukaan olahraga gitu, saya digendong bapak nonton pembukaan. Masih ingat betul saya omongannya. Bapak bilang kapan ya anakku sanggup bela kota, apalagi hingga sanggup bela negara,” kenang Yudha.


“Aku kecewa dengan omongan manajer. Gila, beliau bilang Asian Games tidak penting. Itu padahal ajang yang tidak mudah. Akhirnya saya ambil keputusan ikut Asian Games demi mimpi almarhum bapak aku,” sambungnya.


Selepas Asian Games, Yudha mengakui belum tahu akan bekerja di mana. Terlebih selepas kepergian ayahnya, ia yang menjadi tulang punggung keluarga. Saat ini dirinya mengisi hari-hari dengan melatih pesenam trampolin di Houbii dengan bayaran yang tidak pasti. Akan tetapi memenuhi cita-cita sang ayah yaitu prioritas yang tak sanggup diganggu gugat baginya.


“Waktu pembukaan Asian Games saya pribadi mencicipi bahwa mimpi itu terjadi. Tapi, saya di ketika itu juga mencicipi lagi kehilangan bapak,” pungkasnya.